MODIFIKAS MESIN PEMOTONG RUMPUT MENJADI MESIN PENCABUT GULMA DI SAWAH

MODIFIKAS MESIN PEMOTONG RUMPUT MENJADI MESIN PENCABUT GULMA DI SAWAH

Selasa, 7 Juli 2026 13:17 WIB
1 | -

Tanjung Agung yang merupakan salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Muara Enim memiliki luas lahan pertanian padi paling luas sebesar 3995 Ha dengan produktivitas sebesar 60,21%  atau sebesar 23.813,06 ton (di-update olehBPS Muara Enim Sept 2018). Untuk menghasilkan beras dengan baik, maka dibutuhkan sejumlah perawatan, mulai dari masa tanam hingga masa siap panen, salah satunya adalah pengendalian hama. Hama yang paling sering muncul dan sudah menjadi rutinitas petani membasminya adalah hama gulma yang merupakan rumput dan tanaman lain yang mengganggu, karena dapat merusak perkembangan tanaman padi (Takeshi Takamaa, 2014). Penurunan akibat gulma tergolong cukup tinggi sekitar 6 – 87%. Penurunan produksi padi akibat gulma menurut data nasional sekitar 15 – 42% untuk padi sawah dan padi gogo 47-87 % (Widaryanto, 2009).

Proses penyiangan pada sawah bisa dilakukan dengan membenamkan gulma ke dalam lumpur. Kegiatan pengendalian gulma pada tanaman padi pada umumnya dapat dilakukan dengan cara penggunaan herbisida atau dengan penyiangan secara manual dan mekanis. Namun penggunaan herbisida juga masih belum seratuspersen efektif dan dapat memberikan dampak yang kurang baik terhadaplingkungan. Sedangkan penyiangan secara manual yaitu dengan cara mencabut gulma secara manual/tradisional memerlukan tenaga manusia yang besar dari segi biaya dantenaga serta banyak memakan waktu, sedangkan cara yang efektif belum dipakai pada system pertanian padi yang ada di KecamatanTanjungAgung.  Oleh karena itu, sebagai salah satu bentuk intensifikasi pertanian padi dan meningkatkan produktivitas serta mengefektifkan pekerjaan petani diperlukan alat untuk mengendalikan hama gulma tersebut.

Inovasi ini dibuat dengan memodifikasi mesin pemotong rumput menjadi mesin pencabut gulma sawah dengan memodifikasi pada mata pisau. Mata pisau yang digunakan dengan memanfaatkan sparepart dan besi bekas sebagai upaya daur ulang dan pelaksanaan prinsip 3R pada lingkungan sekitar. Mata pisau dibuat dengan memotong piringan cakram bekas dari motor yang ditambahkan besi siku yang sudah dimodif menjadi mata pisau dengan menggabungkan piringan cakram dan besi siku yang sudah dimodif tadi dengan bantuan las. Kemudian digabungkan ke pegangan mesin potong rumput dengan dikunci menggunakan mur dan baut 14.

Adapun tujuan inovasi dibuat adalah membantu para petani dalam mengendalikan hama gulma yang dapat mengurangi produktivitas padi, kemudian penyiangan gulma dengan bantuan mesin tersebut bisa mengurangi biaya dan mengefektivitaskan kerja petani. Selain itu bagi sekolah, proses pembuatan inovasi ini merupakan aplikasi atau penerapan dari materi pelajaran Produk Kreatif dan Kewirausahaan yang dampaknya bisa dirasakan oleh masyarakat.

Sebelum dibuatnya inovasi ini, petani yang berada di Kecamatan Tanjung Agung khususnya di Desa Muara Emil melakukan penyiangan gulma dengan cara manual yaitu dengan mecabut satu per satu gulma dengan menundukkan kepala sambil berjalan. Hal ini bisa menyebabkan kondisi fisik yang menurun dan penurunan efektivitas kerja petani. Dengan hadirnya alat modifikasi ini,  petani menjadi terbantu dalam melakukan penyiangan gulma dan efektivitas kerja dalam memproduksi padi sebagai bahan pangan pokok.

 

Inovator : Aurora Puspita Sari, ST (Guru Pembimbing)

Anggota :

  1. Perdiansyah (Siswa) 

  2. Riski apriansyah (Siswa) 


Komentar

×
Berhasil membuat Komentar
×
Komentar anda masih dalam tahap moderator
1000
Karakter tersisa
Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini